Kuceraikan Istriku Karena Ia Sangat Membenci Ibuku

SOROTKASUSNEWS.NET – BLACK STORY : Aku berasal dari keluarga yang sederhana, sejak aku masih duduk di bangku kelas II Sekolah Menengah Atas (SMA) disalah satu kota kecil yang berada di Sumatera Utara aku sudah ditinggalkan oleh Ayah tercinta untuk selama lamanya, sebut saja namaku Rendy (41)

Almarhum Ayahku hanya lah sebagai pegawai rendahan di salah satu intansi Pemerintah, sehingga di pastikan uang dari hasil pensiunannya yang diterima tidak akan cukup untuk mebiayai aku dan kedua adik ku.

Ibuku membuka warung jajanan anak anak, mulai dari pagi hingga larut malam hanya untuk mengumpulakan uang recehan, semua itu ia lakukan demi aku dan kedua adik adiku agar tetap bisa melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang perguruan tinggi.

Sepulang sekolah, aku menyempatkan diri ubtuk membantu ibuku berjualan pakaian keliling dengan mengendarai sepeda motor botot peninggalan dari ayahku, mulai dari desa satu kedesa yang lainnya, bahkan tak jarang juga aku berjualan barang barang kebutuhan rumah tangga, seperti sabun, shampo, sendal jepit yang kudapat dari seorang sales untuk aku jual kembali secara eceran dari warung ke warung.

Uang yang kudapat ku kumpulkan untuk biaya sekolahku, hingga akhirnya aku dapat menamatkan sekolah ku pada jenjang pendidikan SMA.

Foto : Ilustrasi Diperankan Oleh Model

Ku tinggalkan Ibu dan kedua adik ku untuk aku pergi ke kota Besar mencari pekerjaan, alhasil aku bertemu dengan seorang sales yang pernah produk nya aku bantu pasarkan secara eceran di kota ku.

“Selamat siang pak, Apakah bapak masih mengenal dan mengingat saya..? ” tanya ku di salah satu kantor perusahan multi distributor disalah satu kota saat aku mengajukan lamaran kerja.

Asiang seorang salesman yang pernah kutemui di tahun 1993 kini sudah memimpin suatu perusahaan Distributor ternama.

“Ya saya masih mengenal kamu, kamu Rendykan, yang dulu pernah ambil produk saya untuk kamu jual kembali, apa kabarnya, bagaimana kabar ibu dan adik adik kamu” Sebutnya.

Singkat cerita aku diterima bekerja diperusahaan yang dipimpin oleh Asianh, aku bisa dikatakan orang yang cukup beruntung, sehingga aku dapat menjabat sebagai sales supervisor setelah 1 tahun aku bekerja.

Semua fasilitas perusahaan aku dapati, mulai dari mobil dinas yang bisa aku pakai kapan saja, sampai paket liburan yang telah disediakan perusahaan apabila tercapai target perusahaan, hingga akhirnya aku bisa membawa ibu dan adik adik ku jalan kemana saja disaat libur kerja.

Karirku terus menanjak, hingga ada perusahaan lain yang menawarkan aku untuk dapat bergabung dengan mereka, dengan tawaran lebih dari yang telah aku dapatkan diperusahaan tempat aku bekerja, Sales Menejer itulah posisi yang aku duduki diperusahaan yang baru tempat aku bekerja.

Sebut saja Dian, wanita yang ku kenal pada saat aku mengunjungi salah satu Distributor Parmasi di kota P, profesi dan jabatan nya sama persis denganku, hampir setiap hari kami berkomunikasi, baik itu membahas mengenai pekerjaan, hingga sampai masalah pribadi, hingga akhirnya antara aku dengan Dian semangkin dekat dan akrab.

Pribadinya yang kukenal cukup baik, bahkan sangat perhatian, baik terhadap aku, ibu ku dan adik adik ku, walau hanya berkomunikasi hanya lewat telepon kepada keluargaku, bahkan tak jarang dia selalu ingatkan aku untuk mengirim sedikit biaya kepada keluargaku.

Foto : Ilustasi Diperankan Oleh Model

Keyakinanku pun semakin membuatku berani untuk menyatakan rasa cinta ke Dian, bak gayung bersambut, ternyata Dian juga ada memiliki rasa suka kepadaku, hingga akhirnya kami pun menikah dan menetap di kota P tempat aku dan Dian bekerja.

Pernikahan yang memasuki pada usia bulan ke enam, Dian pun mulai berubah dan mulai banyak mengatur, mulai dari membatasi hubungan komunikasi ku dengan keluarga, hingga seluruh keuangan rumah tangga pun Dian yang atur semua.

Aku hanya disisakan Dian 2 juta dari hasil seluruh gajiku setiap bulannya, hingga akhirnya aku mulai tidak jujur kepadanya tentang keuangan, bonus yang kudapatkan dari perusahaan setiap bulannya itulah yang aku sisikan untuk mengirim kepada Ibu ku.

Suatu ketika ada rasa kangen kepada Ibu di sejak 2 tahun pernikahan kami tidak pernah bertemu lagi, ku ajukan Cuti pada atasan kerjaku, yang sebelumnya aku sudah bicara kepada istri ku Dian, dan beliaupun memberikan izin kepada ku untuk menemui Ibu dan adik adik ku dikampung.

Peluk erat Ibuku menandakan betapa kangen nya ia kepada diriku sejak 2 tahun tak pernah bertemu, dan sangat kurasakan hal itu, tatapan matanya penuh tanya, mungkin ia bertanya kenapa Dian istriku tidak ikut dengan ku, aku pun berpura pura tidak mengerti, hingga akhirnya ibu pun menanyakan hal itu kepadaku.

Foto : Ilustrasi Diperankan Oleh Model

“Kemana Dian istrimu Ren, kenapa ia tidak kamu ajak ke sini, ibu juga kangen sama Dian Sejak kalian menikah ibu belum pernah melihat dia lagi, Dia wanita yang cantik, wanita yang baik, kamu harus bisa menjaganya, membimbingnya” Sebut ibu ku dengan mata yang berkaca kaca.

Aku berupaya menutupi semua yang terjadi dalam rumah tangga kami, agar tidak menjadi beban fikiran buat ibuku, walau aku harus berbohong kepada orang yang telah melahirkanku.

Gak terasa sudah seminggu aku menghabiskan masa cutiku bersama ibu dan adik adik ku, aku pun pamit kepada mereka untuk kembali ke kota P dimana aku bersama Dian menetap.

Segantang beras di titipkan oleh ibuku untuk dapat kubawa pulang, mungkin ini lah kasih sayang ibu kepada anaknya, walaupun ia susah tetap saja ia gak ingin terlihat susah dimata anak nya, itu sangat kurasakan sekali, karena begitu bangganya dia saat aku bawa berasnya menuju mobilku untuk kubawa pulang.

Sepanjang jalan menuju kota P, aku masih merasakan perasaan rasa kangen yang dalam kepada ibuku, padahal seminggu sudah aku bersamanya, hingga akhirnya aku sampai dirumahku pukul 10 pagi sejak dari pukul 20.00 wib aku meninggalkan kampung halaman ku.

Sambil menunggu Dian pulang kerja, aku tertidur karena terlalu lelah dalam perjalanan, gak terasa jam sudah menunjukan pukul 17.30 wib, Dian pun sudah sampai dirumah.

Aku mendengar sura Dian dari dapur sambil memanggil manggil nama ku

“Mas..mas..ini beras siapa kok ada di sini..? bukankah kita tidak pernah memesan beras ini” Sebut Dian.

Aku langsung terbangun menghampiri Dian, untuk mengatakan kalau ibu telah memberikan beras buat kami, sambil menyampaikan salam ibu ke Dian.

Betapa kagetnya aku mendengar ucapan Dian yang seharusnya tidak aku dengar, dengan bicara yang cukup lantang ia tidak menyadari kalau Beras itu ibu yang memberikannya.

“Kalau mau ngasih beras sekalian lah sama lauk pauknya, minyak nya, ngasih kok hanya beras saja” Ucap Dian dengan nada tinggi

Bergetar rasa jantung ini, betapa berdosanya aku terhadap ibuku, sebisa mungkin aku menahan kekecewaan itu, sambil aku rangkul pundak Dian aku mencoba menenangkan nya.

“Kenapa Istri mas marah marah…Bukankan kita baru saja mendapatkan rezeki dari orang tua kita, lumayan kan bulan ini kita tidak belanja beras lagi” Sambut ku.

Dengan melangkah pergi sambil menuju kamar mandi Dian masih saja mengulangi perkataan yang sungguh membuat aku semakin mendidih darah ini, hingga aku coba terus tetap tenang.

“Harusnya ibu tanya dung, anak nya makan beras apa yg dimakan, jangan disamakan disana dengan disini, seleranya kan juga beda” ketus Dian.

Aku hanya terdiam seribu bahasa, menahan rasa emosi ku yang juga di tambah dengan stamina ku yang kurang fit akibat semalaman dalam perjalanan munuju rumah.

Kesokan harinya Dian pun tidak pernah membahas tentang beras itu lagi, kami seperti biasanya, bangun pagi, mandi, sarapan dan berangkat kekerjaan masing – masing, Dian berangkat kerja menggunakan Mobil inventaris perusahaan nya, begitu juga dengan saya.

Gak terasa sudah sebulan beras yang kubawa dari kampung yang diberikan oleh ibu ku sudah tidak dapat dimakan, pasalnya sudah berkutu dan berulat, akibat tidak pernah dibuka dari karungnya, dan mungkin busuk karena dibiarkan begitu saja.

Betapa hancurnya perasaan ku, ketika aku mengetahui kalau beras yang kubawa dari kampung yang diberikan ibuku hanya untuk diberikan kepada ayam kerdil peliharaan Dian dibelakang rumah.

Dalam sholatku aku mohon ampun kepada allah swt, atas dosa yang dilakukan oleh istriku kepada ibuku, betapa sedihnya ibu ku jika ia mengetahui hal ini, betapa besarnya dosaku jika Ibu ku menangis karena perbuatan istriku, orang yang aku cintai, orang yang selama ini menjadi teman hidupku dalam berumah tangga.

Suatu ketika, Aku pergi keluar kota karena ditugaskan oleh atasan ku untuk membuka kantor cabang di salah satu Provinsi di Sumatera selama 5 hari.

Buku rekening ku terlihat oleh Dian yang kusimpan dibawah sela sela pakaian ku di dalam lemari, terlihat dengan jelas oleh Dian aliran dana saldo rekening ku transfer kemana saja setelah buku tabungan tersebut di cetak pada bank yang bersangkutan.

Sepulang aku dari luarkota, spontan Dian menyambutku dengan penuh murka, wajahnya yang cantik berubah menakutkan, matanya nya penuh dendam melihatku, seolah olah aku ingin dimakan nya hidup hidup, dan aku masih tidak mengerti apa yang sedang Dian fikirkan tentangaku.

Sambutan wajah manjanya hilang untuk menyambut kedatangan ku, senyum manisnya pun tidak terlihat di depan pintu seperti pada biasanya menyambutku, semua dibalas dengan raut wajah yang cemberut. Ku hampiri dan ku tanyakan pelan pelan di telinganya sambil memegang pundaknya dari belakang.

“Mama kenapa sayang kok cemberut gitu, kangen ya sejak 5 hari Mas  tinggal” Ucapku.

Sambil meninggalkan ku menuju kamar tidur Dian mengambil dan menunjukan buku rekening ku yang sengaja aku buat untuk mentransfer uang buat ibu ku, agar tidak ia ketahui kalau aku setiap bulannya mengirim uang untuk ibuku.

Ini aku lakukan sejak keuangan rumah tangga kami di kendalikan oleh Dian seluruhnya, sampai sampai aku juga di jatah setiap bulannya.

“Begini ya cara Mas membohongi ku, megirimkan uang kepada ibu mu secara diam diam, kan sudah aku katakan, saat ini kita gak usah berfikir untuk mengurusin orang lain,karena kita juga masih kekurangan” Ucap Dian dengan amarahnya.

Saat itu aku benar benar tersinggung atas perkataan kasar Dian yang mengatakan mengurusin orang lain, karena aku berfikir ibu ku bukan orang lain, ia tetap ibu ku, dan hubungan aku dengan ibu ku sampai kapan pun tidak akan pernah putus.

Dengan luapan emosi yang selama ini aku tahan tahan, hari itu juga aku luapkan, hingga akhirnya terjadi perdebatan panjang, saling ungkit mengungkit saling bangkit ditambah lagi perkataan dian yang memaksaku untuk menceraikan nya detik itu juga.

” Agar kamu tau ya mas, saya tau kamu dari keluarga miskin, dan kamu harus pahami aku hanya ingin menikah dengan kamu, bukan kepada ibumu,jangan kamu sangkut pautkan ibu mu dengan urusan rumah tangga kita, dan aku sangat tidak suka kamu membantu ibu mu setiap bulan, apa ibu mu suka melihat anak nya sengsara karena harus terus membantu dia” cetus Dian.

Foto : Ilustrasi Diperankan Oleh Model

Dengan luapan emosi yang semangkin memuncak akupun membantah semua ucapan Dian yang di lontarkan kepada ku

“Cukup Dian, jangan kamu hina ibu ku, jangan kamu maki ibuku, kita ketemunya setelah aku seperti ini, bukan dari kemiskinan ku, dan aku bisa seperti ini bukan karena kamu, tapi doa dari orang orang yang mencintaiku, yang membesarkan ku, dia adalah ibu ku, bukan kamu, kamu saya dapatkan juga bukan dari orang orang yang baik, berapa banyak sudah laki laki yang menikmati tubuhmu sebelum kita menikah, lebih baik miskin dari pada harus jadi cemooh orang satu kota, ingat itu Dian, jangan kamu hina ibu ku yang miskin” Ucap Rendy saat menceritakan kisahnya kepada tim Sorot Kasus News.

Hingga akhirnya Rendy pun menjatuhkan talak cerai kepada Dian melalui Pengadilan Agama selang beberapa bulan setelah pertengkaran itu terjadi.

Berdasarkan pengakuan Rendy, Dian kini di berhentikan dari perusahaan tempat dia bekerja karena di laporkan oleh istri atasan nya yang ketahuan selingkuh dengan suaminya.

Kini Dian menjadi buah bibir kaum Adam di kota P, sebagai Janda kembang yang sedang mencari suami, bahkan tak jarang para lelaki berhasil mendekatinya yang berujung sampai kepada urusan ranjang.

Rendy sendiri kini tengah menggeluti usaha dibidang Percetakan, Weding organizeer, dan kegiatan kegiatan lainnya setelah ia mengajukan untuk resign (Keluar) dari perusahaan nya dan kembali ke kampung halamannya. (Tim/Skn) ** Seperti yang dikisahkan oleh Rendy (Nama Samaran) kepada tim SKN.




Tinggalkan Balasan