Farida Orang Tua Siswa Yang Pukul Kepsek SMAN 2 Rakit Kulim Rela Masuk Penjara Demi Anak Bungsunya

SOROTKASUSNEWS.NET-Sejarah pendidikan gratis di Indonesia ini sepertinya hanya janji politik para pejabat.

Buktinya masih banyak sekolah-sekolah di Indonesia ini yang mewajibkan murid untuk membayar berbagai iuran yang sipatnya memberatkan wali murid, Seperti halnya Sekolah SMAN 2 Rakit Kulim Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, Pihak sekolah mewajibkan wali murid atau murid untuk membayar berbagai jenis iuran yang tidak jelas yang akhirnya menjadi bumerang di sekolah tersebut.

Hanya gara-gara belum membayar uang sekolah,Andrinata yang seharusnya bisa belajar dengan tenang kini harus berurusan dengan polisi, Pasalnya, dia diduga melakukan penganiayaan terhadap kepala sekolah (Kepsek).

Tepatnya pada hari Rabu ,13 Maret 2019 pagi lalu, Farida ibu Andrinata harus mondar mandir untuk mencari pinjaman uang untuk membayar tunggakan biaya sekolah anaknya lunas.

Sebab kalau tidak, anaknya Andrinata (19) yang tercatat sebagai kelas III di SMA Negeri 2 Rakit Kulim, itu tidak boleh ikut Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN).

“Tunggakan uang sekolah anaknya sebesar Rp.740 ribu. Tapi waktu itu uang yang ada cuma Rp500 ribu. Lantaran sekolah mewajibkan harus lunas hari itu juga, akhirnya saya cari pinjaman,” cerita perempuan 45 tahun itu kepada awak media saat berkunjung di rumahnya di Desa Petonggan Rakit Kulim, Minggu 17 Maret 2019.

Farida cari pinjaman, Andrinata yang sudah di dalam kelas untuk ujian, disuruh keluar oleh oknum guru bernama Yana.

“Silahkan keluar…Kamu enggak boleh ikut ujian sebelum tunggakan uang sekolah dan iuran OSIS lunas sampai bulan Juni,” kata oknum guru Yana.

Diusir seperti itu, Andrinata ngedumel sambil mengatakan,”Sekolah ini benar-benar enggak punya toleransi,” rutuknya.

Mendengar Andrinata ngedumel seperti itu, Kepala Sekolah, Bambang Fajrianto naik pitam dan marah kepada Andrinata.

Tak terima dimarahi, Andrinata mengajak Bambang duel dan Bambang meladeni.

“Gaya Pak Bambang marah kayak preman. Makanya saya ajak duel satu lawan satu. Saya disuruh memukul, tapi saya cuma mencekik lehernya saja. Itupun karena kesal,” tutur Andrinata yang duduk di samping ibunya Farida.

Menengok perkelahian itu, warga langsung menarik Andrinata supaya melepaskan cekikannya dari leher Bambang.

“Saat saya ditarik itulah leher Pak Bambang luka kena kuku saya,” ujar Andrinata.

Setelah dilerai warga, Andrinata pergi ke kantin sekolah. Tapi Bambang malah membuntutinya sambil menelepon polisi untuk menangkap Andrinata.

Perkelahian kembali terjadi. “Bapak punya mata enggak! Emak saya sudah datang melunasi uang sekolah saya,” hardik Andrinata.

Bambang emosi,” Tak punya mata Bapak kau!” hardiknya sembari memukul Andrinata.

“Saya sakit hati almarhum ayah saya dihina, makanya saya balas memukulnya,” ujar Andrinata.

Farida yang sudah kembali lagi ke sekolah untuk melunasi sisa tunggakan kaget mendapati anaknya sudah duel dengan kepala sekolah.

“Saat itu saya langsung minta maaf sama kepala sekolah. Tapi kepala sekolah tak mau. Dia tetap mau melaporkan anak saya ke polisi,” terangnya.

Diceritakan Farida, Sejak M Hatta, suami saya meninggal dua tahun lalu lantaran penyakit diabetes, Andrinata yang bungsu dari tiga bersaudara itu, lebih sering murung dan muda tersinggung.

“Dia mudah tersinggung kalau dibahas soal mendiang ayahnya, dia sangat sayang sama ayahnya,” kata Farida sambil menangis.

Sejak suami saya meninggal kata Farida, hidup dia dan Andrianta ditanggung oleh dua abang Ardinata yang bekerja sebagai supir truk angkutan kelapa sawit.

“Saya enggak bekerja. Anak-anaklah yang membiayai sekolah Andri, bahkan kelak nanti kuliah,” cerita Farida. Sebab pesan Hatta, Andri musti menjadi ustadz.

Terkait apa yang sudah terlanjur dilakukan Andri kata Farida, dia berharap kepala sekolah membuka pintu maaf untuk anaknya.

“Kalau kasus ini berlanjut, biarlah saya yang dipenjara, jangan anak saya. Dia masih punya masa depan yang panjang untuk memenuhi wasiat ayahnya menjadi ustadz,” ujar Farida.

Sementara Kepsek SMAN 2 Rakit Kulim, Bambang saat dikonfirmasi tidak mau berikan keterangan, dia mengatakan agar masalah ini tidak dipublikasikan lantaran sudah diserahkan kepada Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS)”,singkatnya.(Heri)




Tinggalkan Balasan