Makam Raja Indragiri Di Desa Kota Lama Sudah Di Kenal “Tiga Manca Negara “

SOROTKASUSNEWS.NET – Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) dikenal sebagai kota bersejarah ini memiliki banyak objek wisata yang bisa dikunjungi. Terdapat situs bersejarah peninggalan Kerajaan Indragiri dan beberapa danau yang berkaitan dengan kejayaan kerajaan Melayu masa lalu.

Salah satunya situs cagar budaya Kompleks Makam Raja-raja Indragiri. Situs cagar budaya di Desa Kota Lama, Kecamatan Rengat Barat.

“Di Kompleks Pemakaman Raja-raja Indragiri ini terdapat makam Raja Indragiri beserta keluarga dan pengikutnya. Di antaranya Makam Raja Narasinga II beserta putranya, Sultan Usuluddin, serta makam panjang sekitar 12 meter, yakni makam Panglima Raja Narasinga II, Andi Sumpu Muhammad yang bergelar Panglima Jukse Besi”,papar Kades Kota Lama Herman SH.

Selain itu juga terdapat makam Raja Narasinga II yang bergelar Paduka Maulana Sri Sultan Alaudin Iskandarsyah Johan Zirullah Fil Alam (sultan kerajaan Indragiri ke-4) setelah pusat kerajaan Indragiri Pematang Tua (Pekan Tua) dipindahkan ke negeri Meduyan (Kota Lama saat ini).

“Di makam itu juga terdapat makam putranya yang bernama Usuluddin (Sultan Indragiri kelima), makam Sultan Kesedangan Indragiri (Ahmad Alam Syaputra) yang diangkat menjadi Raja Ibadah, makam Datuk Bendahara Raja Usman Fadillah Mangku Bumi Indragiri yang pernah dinobatkan menjadi Sultan Indragiri ke-15, Makam Raja Muda Indragiri Pertama (Raja Bergombak), Makam Panglima Andi Sumpu Muhammad Jokce Besi yang merupakan panglima Narasinga II.” sambung Kades.

“Kebhinekaan tunggal ika itu sudah ada sejak zaman kerajaan dahulu, karena dalam komplek ini juga Makam Jenderal Verdicho Marloce panglima perang Kerajaan Portugis yang ditawan oleh Raja Narasinga II ketika Perang Daek Lingga (Malaka) merebut Kota Malaka dari kekuasaan Portugis yang kemudian dibawa ke Indragiri dan wafat di Indragiri serta sejumlah makam para menteri Kerajaan Indragiri.

Dan pemakaman Raja-raja Indragiri ini religinya wisata dan bakan di kunjungi dari berbagai manca negara, Seperti Malaka, Singapur dan Malaysia.

Sementara itu Tokoh masyarakat yang juga anggota BPD Desa Kota Lama, Baharudin mengatakan , Di kawasan Cagar Budaya komplek Makam Raja- Raja Indragiri juga terdapat Benteng Pertahanan Kerajaan Indragiri yang terbuat dari gundukan tanah mengelilingi areal makam atau yang disebut Benteng Aur Berduri, yang sampai saat ini masih terjaga dan terpelihara.

Sebagaimana diketahui bahwa asal usul keturunan Raja-raja Indragiri ini adalah berasal dari Sultan Malaka ke-4 yang bernama Malik Al Muluk, jadi selain merupakan makamnya Raja- Raja Indragiri ini juga merupakan makamnya leluhur dan nenek moyang orang Malaka.

“Tak hanya itu, di kawasan Cagar Budaya Komplek Makam Raja Raja Indragiri adalah sebuah kawasan yang sangat strategis untuk pusat penelitian budaya dan sejarah karena di kawasan ini juga ditemukan berbagai pecahan pragmen (pecahan keramik) dan gerabah yang menunjukkan ada peradaban kehidupan masa lalu yang diduga berasal dari peninggalan dinasty Ming, Yang, Cing serta dari kerajaan Vietnam jelas SSaharan”,terangnya.

Diceritakan lebih jahu, Dua makam yang berdampingan yakni makam Raja Narasinga II dengan makam bekas tawanan perangnya yang diangkat sebagai menterinya yakni Jenderal Verdicho Marloce berdampingan.

Makam Raja Narasinga II yang ornamennya melayu simbol seniotik Islamic. Sementara, makam Jenderal Verdicho Marloce identik dengan simbol seniotik identitas diri Nasrani yang berlambangkan salib pada batu nisannya di sebelah makam Raja Narasinga II.

Kedua makam ini terletak di Kawasan Cagar Budaya peninggalan sejarah Kerajaan Indragiri, di desa Kota Lama, Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau.

Raja Narasinga II ini berperang dan berjuang merebut Kota Malaka dari kekuasaan kerajaan Portugis di bawah komando Jenderal Verdicho Marlos sebagai panglima perangnya, selama 20 tahun antara tahun 1512 sampai 1532.

“Jenderal Verdicho Marloce beragama Nasrani, namun mengabdikan diri kepada Raja Narasinga II yang notabene beragama Islam. Artinya Jenderal Verdicho mengabdi pada Islam, namun tetap pada agamanya hingga akhir hayatnya,” singkat Bahrudin saat menceritakan sejarah tentang raja-raja indragiri di jaman tahun 1532 silam**Iin




Tinggalkan Balasan