Kasus Kekerasan Terhadap Santri, Ketua Komnas Perlindungan Anak Sebut Ponpes Harus Bertanggungjawab

SOROTKASUSNEWS.NET-Ketua umum Komnas Perlindungan anak Indonesia, Arist Merdeka Sirait menyatakan sesuai pasal 59 UU RI No 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak, sekolah diwajibkan menjadi zona bebas kekerasan, baik yang dilakukan oleh peserta didik, pengelola sekolah, penanggung jawab sekolah, guru reguler, non reguler, penjaga sekolah dan seisi lingkungan sekolah.

“Dengan demikian hukuman yang dilakukan santri senior Kelas 2 MAN Ponpes Khairul Ummah Batu Gajah, Kecamatan Pasir Penyu, Kabupaten Inhu, Riau, terhadap 3 orang santri masing-masing AD (14), TI (13) dan X (14) merupakan tindak pidana kekerasan fisik yang dapat diancam pidana penjara minimal 5 tahun,” kata Arist saat memberikan keterangan pers dikantornya di Jakarta Timur, Sabtu (22/2/2020).

Atas peristiwa ini kata Arist, pengelola Ponpes Khairul Ummah juga harus dimintai pertanggungjawaban karena dapat dikategorikan telah diduga melakukan kelalaian.

Mengingat lingkungan sekolah wajib bebas dari tindak kekerasan dan perundungan (bullying), dengan demikian Komisi Nasional Perlindungan Anak mendesak segera pengelola sekolah MTSN Ponpes Khairul Ummah Riau untuk memfasilitasi proses penyelesaian tindak kekerasan, melalui pendekatan diversi dan keadilan restorasi, sehingga kasus kekerasan terhadap Junior santri yang belajar Di MTSN Khairul Ummah mempunyai kepastian hukum.

“Oleh sebab itu tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan di lingkungan sekolah harus menjadi pelajaran yang berharga sehingga kejadian yang sama tidak terulang lagi,” katanya.

Lebih jauh Arist Merdeka Sirait menjelaskan, mengingat pendidikan adalah hak fundamental anak yang dijamin Konvensi PBB tentang hak anak, Undang-undang perlindungan anak serta Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, maka lingkungan sekolah, pengelola sekolah wajib memberikan jaminan, agar hak atas pendidikan dapat tidak terabaikan serta dapat berjalan dengan baik.

“Kasus-kasus kekerasan terhadap anak tidak akan terulang lagi di masa-masa yang akan datang, baik yang dilakukan dari lingkungan senior santri maupun pengelola sekolah,” katanya.

Sebagai mana diberitakan sebelumnya, bahwa ada tiga orang santri mengalami perilaku penganiayan yang dilakukan oleh santri senior di Khairul Ummah. Bahkan santri RY dan RD mengalami luka memar diduga dihantam dengan benda tumpul.

Orangtua juga telah melaporkan perkera tersebut kepada pihak kepolisian setempat dan juga mendapat penanganan dari P2TP2A Kabupaten Inhu.

Menurut orangtua santri Adi, kini perkara dalam proses penyelidikan dari pihak kepolisian. Bahkan Adi juga mengaku kesal dengan sikap tidak peduli dan kesan lepas tangan.*** Tim




Tinggalkan Balasan