Perang Tarif Antara Pihak Aplikator Taksi Online Berdampak Negatif Terhadap Transportasi Lainnya

Sorot Kasus News – Medan : Munculnya sarana transportasi yang berbasiskan aplikasi membuat pengguna jasa transportasi jadi semakin lebih mudah untuk mendapatkan armada yang di inginkan nya. Tingginya permintaan pasar membuat para pengusaha kian berlomba – lomba untuk menciptakan sarana aplikasinya.

Di tahun 2014, layanan jasa transportasi di Indonesia yang berbasiskan aplikasi ini hanya ada dua, yakni Gojek dan Grab.

Dengan pesatnya permintaan pasar, maka kedua aplikator tersebut merambah pasar hingga ke seluruh penjuru di kota kota besar di Indonesia, dengan menawarkan berbagai keuntungan baik kepada pengemudi maupun terhadap para pengguna layanan transportasi tersebut, mulai dari program promosi khusus, hingga bonus dan potongan harga.

Kota Medan yang termaksud dalam kota metropolitan setelah Jakarta dan Surabaya adalah salah satu tujuan dan target utama perusahaan Aplikator untuk mengembangkan peluang bisnisnya di bidang layanan jasa transportasi yang berbasiskan aplikasi yang kini terus bermunculan dengan berbagai macam perusahaan seperti aplikasi Indriver dan Maxim yang kini telah hadir di kota Medan.

Namun yang disayangkan Pemerintah tidak serius menanggapi kehadiran para perusahaan aplikasi tersebut, yang terus mengambil keuntungan tanpa melihat aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam penerapan tarif batas bawah dan tarif batas atas.

Para perusahaan Aplikator tersebut berbagai cara untuk mengambil pangsa pasar yang ada, mulai dari menerapkan ongkos dengan tarif yang relatif sangat murah, sehingga layanan jasa aplikasi mereka akan banyak dimintai oleh penggunanya.

Hasil pantauan awak media www.sorotkasusnews.net dilapangan, adanya perusahaan aplikasi yang menerapkan ongkos 10 ribu untuk 2 titik pengantaran yang berbeda, jika di hitung dari jarak tempuhnya berkisar 10 kilometer, bahkan ada perusahaan aplikator yang memasang tarif lebih rendah lagi, 6 ribu untuk pengantaran berjarak 8 kilometer.

Jika ini terus dibiarkan, maka akan berdampak negatif terhadap para pelaku usaha kecil menengah ( UMKM ) di bidang jasa transportasi, bahkan hal yang akan lebih parah lagi akan mematikan pelaku usaha tersebut.

Perang tarif antar perusahaan aplikator tersebut secara jelas sudah melanggar aturan dan ketetapan yang tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2008 BAB II Pasal (3) Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan usahanya dalam rangka membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan.

Padahal selain dari ketetapan UU UMKM No.20 tahun 2008, Tarif untuk taksi online juga telah dipertegas dalam peraturan menteri perhubungan nomor. 118 tahun 2018 pada BAB I Pasal (1) butir (15) Tarif Angkutan Sewa Khusus Berpedoman pada tarif batas atas dan tarif  batas bawah.

Sampai berita ini di lansir, salah satu perusahaan aplikasi yang sempat dihubungi oleh awak media melalui telepon selularnya belum dapat dihubungi untuk di konfirmasi terkait adanya Tarif angkutan sewa khusus yang tidak sesuai dengan perturan pemerintah. [Red_999]




Tinggalkan Balasan